General Electric Masuk Ke Bisnis PLTU

General Electric Masuk Ke Bisnis PLTU – General Electric (GE) bakal mengembangkan bisnis pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), khususnya ke beberapa negara Asia. Sebelumnya, perusahaan asal Amerika Serikat ini menjalankan usaha di sektor teknologi pembangkit listrik tenaga gas dan energi terbarukan. Menurut Country Director GE Power Indonesia, David Hutagalung, perusahaannya saat ini berfokus sebagai penyedia teknologi PLTU karena memiliki peluang besar dari segi teknologi. Kemampuan ini diperoleh GE setelah mengakuisisi Alstom, korporasi sektor energi asal Prancis, pada 2015.

“Karena itu, jika ada peluang dalam proyek yang ada dalam RUPTL (rencana usaha penyediaan tenaga listrik) PLN, selama belum ada provider, kami tertarik,” kata dia kepada Tempo, kemarin. Menurut David, peluang bisnis PLTU terbuka lebar setelah pemerintah berencana menambah kapasitas pembangkit batu bara hingga 2027 sebesar 26,8 ribu megawatt (MW). Sebagian besar di antaranya dibangun melalui skema pembangkitan listrik swasta (independent power producer). Di Indonesia, GE baru mengantongi komitmen proyek PLTU Jawa III yang berkapasitas 2 x 660 MW.

Dia menuturkan tantangan dalam berbisnis PLTU domestik saat ini adalah harga listrik. Pemerintah mengatur tarif PLTU tak lebih dari 85 persen biaya pokok produksi daerah setempat. Sedangkan, kata David, teknologi terdepan untuk pembangkit batu bara menelan ongkos yang tak sedikit. “Teknologi ultra super critical memang lebih mahal,” katanya. Saat ini, GE menawarkan PLTU berteknologi ultra super critical dengan efisiensi pembakaran 49 persen.

Angka itu sedikit lebih tinggi ketimbang efisiensi pembangkit teknologi serupa yang rata-rata hanya sekitar 40 persen. Bahkan, PLTU berteknologi subcritical hanya bisa membakar 35 persen batu bara. Pembangkit listrik ini juga dilengkapi dengan perangkat digital yang mampu memonitor kondisi fasilitas secara langsung.

“Data itu diolah secara langsung oleh software Predix kami,” ujar David. Tujuannya untuk mengantisipasi gangguan pembangkit lebih dini. Fasilitas lain yang termuat dalam portofolio perusahaan adalah pengen dali emisi udara (air quality control systems). Perusahaan mengklaim kandungan sulfur oksida (SO2) bisa dikurangi hingga 98 persen, nitrogen oksida (NO2) sebesar 98 persen, dan partikel material (PM) sebesar 99,9 persen.

Salah satu pembangkit di Asia Tenggara yang sudah memakai teknologi ultra super critical GE adalah PLTU Manjung 4 milik perusahaan pelat merah Malaysia, Tenaga Nasional Berhad (TNB) Janamanjung. Fasilitas ini mampu memproduksi setrum hingga 1.010 megawatt dan beroperasi sejak 2015. Managing Director TNB Janamanjung, Shamsul Ahmad, mengklaim pembangkitnya hanya mengeluarkan SO2 sebesar 500 mg/NM3, NO2 sebesar 500 mg/NM3, dan partikel material sebanyak 50.

Perusahaan juga mengelola limbah fly ash dari pembangkit untuk dijual ke pabrik semen. Polutan lebih kecil dihasilkan dari efisiensi pembakaran pembangkit yang mencapai 42 persen. “Kami bisa menekan emisi di bawah standar Bank Dunia,” kata Shamsul. Juru bicara Asosiasi Pengusaha Listrik Swasta Indonesia, Riza Calvary, menyatakan jika standar emisi yang ketat berlaku di Indonesia, harga listrik batu bara berisiko lebih mahal. “Biaya investasinya sangat tinggi. Risikonya juga besar.
Kesulitan di lapangan juga sangat besar,” ujarnya. Direktur Teknik dan Lingkungan Ketena galistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Munir Ahmad, mengemukakan pemerintah sudah menetapkan kebijakan seluruh PLTU yang dibangun dalam program 35 ribu MW menggunakan teknologi ultra super critical. Pemerintah juga berkomitmen tak mengizinkan pembangkit batu bara baru di Pulau Jawa. “Semuanya akan memakai teknologi ultra super critical yang ramah lingkungan,” tutur dia, beberapa waktu lalu.

Tags: