Pasar Saham Tidak Terpengaruh Pilpres 2019

Pasar Saham Tidak Terpengaruh Pilpres 2019

Pasar Saham Tidak Terpengaruh Pilpres 2019 – Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna, mengatakan tidak akan mengubah target perusahaan yang akan melakukan penawaran perdana saham di pasar modal. Menurut dia, meningkatnya tensi politik menjelang pendaftaran calon presiden dan wakil presiden tidak akan berpengaruh terhadap pasar. “Secara prinsip, target tidak berubah. Semoga tidak berkurang,” kata Nyoman dalam acara Musyawarah Asosiasi Emiten Indonesia, di Jakarta, kemarin. Dia menyebutkan saat ini sudah ada 16 perusahaan yang antre untuk menggelar initial public offering (IPO) atau penawaran perdana saham. Sebelumnya, terhitung Januari-Juli 2018 sudah 30 perusahaan yang melantai di BEI.

Nyoman menekankan, perhelatan pemilu tidak dengan mudah mengubah target perusahaan yang ingin melakukan IPO. “Orang (investor) sudah bisa membedakan mana politik dan ekonomi,” ucapnya. Bursa cukup konservatif menargetkan perusahaan yang akan menggelar IPO hingga akhir 2018, yaitu 35 emiten. Pada saat pilpres 2014, pencalonan Joko Widodo memberikan sentimen terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada Jumat, 14 Maret 2014, IHSG ditutup naik 152,47 poin (3,23 persen) ke level 4.878,64.

Kenaikan itu me lawan arah bursa regional Asia yang terkoreksi. Pada akhir 2014, BEI mencatat hanya 23 perusahaan melantai di bursa. Jumlah itu turun 25,80 persen dibanding pada 2013, ketika ada 31 perusahaan melakukan IPO. Dari nilai, total dana yang didapat dari IPO sepanjang 2015 mencapai Rp 9,02 triliun, turun 46,14 persen dibanding pada 2013 yang mencapai Rp 16,747 triliun.

Otoritas Jasa Keuangan menilai penurunan terjadi karena dinamika politik ikut mempengaruhi perusahaan. Sepanjang 2014 ada sejumlah sentimen yang terjadi di dalam negeri dan global. Selain pemilu, sentimen yang mempengaruhi pergerakan IHSG ialah kenaikan harga bahan bakar bersubsidi dan pelemahan nilai tukar rupiah. Sedangkan isu global yang bergulir ialah krisis di kawasan Eropa Timur dan perbaikan ekonomi di Amerika Serikat mengenai kenaikan suku bunga The Fed. Sekretaris Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Yan Partawidjaya, menilai ekonomi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari situasi politik.

Namun dia optimistis agenda politik, seperti pemilu, tidak akan mengganggu rencana kerja emiten. “Kami sudah buat target di awal tahun dan yang terpenting adalah menyiapkan antisipasi,” ujarnya. Dia menilai proses pemilu tidak akan signifikan mengubah rencana ekspansi perusahaan. Meski demikian, Yan menyatakan emiten di sektor infrastruktur perlu mengambil langkah antisipasi karena ada kebijakan jangka pendek pemerintah mengenai pembatasan penggunaan bahan baku impor. “Kebijakan itu kembali lagi ke pimpinan perusahaan,” kata Yan.

Direktur Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, menyatakan tahun politik cenderung membuat investor dan pelaku usaha menunggu (wait and see). Pasalnya, selama masa kampanye hingga menjelang pemilihan, stabilitas politik kurang kondusif bagi pasar. Salah satu contohnya ialah tudingan atau serangan lawan politik terhadap kinerja pemerintah. “Orang (investor) cenderung menunggu politik stabil,” ucap Hans.

Tags: