Pasien Cerdas dan Dokter Rasional Bagian 2

generasimaju.com – Dengan memiliki bekal pengetahuan yang cukup, kondisi kesehatan bergejala batuk, hidung tersumbat, diare, dan muntah sebetulnya tidak memerlukan kunjungan ke dokter. Mengapa? Karena gejala-gejala itu sebagian besar disebabkan oleh infeksi virus yang akan sembuh sendiri seiring pulihnya daya tahan tubuh. Sebaliknya jika orangtua tidak paham, besar kemungkinan ia akan menuntut dokter anaknya untuk memberikan obat yang sebetulnya tidak diperlukan. Lalu, terjadilah pengobatan yang tidak rasional. Kasihan si kecil, bukan?

BELAJAR TIADA AKHIR

Sudah semestinya, kita menjaga anak-anak dan keluarga dari pemberian obat atau tindakan medis yang sebenarnya tidak diperlukan (overtreatment). Hal ini bisa terjadi jika konsumen melek ilmu kesehatan, sehingga ia dapat bersikap kritis dan mendapat respek dari dokternya. Di manakah kita bisa mempelajari ilmu kesehatan yang mendasar? Tentu saja, jawabannya ada di nakita.

Selain itu, pakar kesehatan merekomendasikan situs milissehat (www. milissehat.web.id), WHO (www.who. int), kidshealth (www.kidshealth.org), dan AAP (www.aap.org). Sejak beberapa tahun lalu, para orangtua yang peduli kesehatan bahkan bisa bergabung dalam komunitas yang anggotanya terdiri atas sesama orangtua dan pakar kesehatan dari berbagai latar belakang keilmuan. Para dokter sendiri bukannya tidak perlu memperbaharui pengetahuan mereka dalam ilmu kedokteran.

Salah satunya, yang wajib dilakukan adalah membaca jurnal-jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian dengan level of evidence (tingkat kepercayaan) yang berbeda-beda. Tak ada salahnya, kita bertanya pada dokter mengenai perkembangan terkini pengobatan berdasarkan bukti-bukti atau evidence based medicine (EBM).

Sebenarnya, posisi yang sejajar antara dokter-pasien akan menjadikan konsumen kesehatan bertanggung jawab aktif terhadap kesehatannya sendiri. Jadi, ketika anaknya sakit, ia tidak menyerahkan sepenuhnya urusan kesehatan si anak kepada dokter. Pasien juga berhak memberikan umpan balik atas layanan yang dokter berikan kepadanya.

Dengan begitu, hubungan dokter-pasien bisa terjalin dengan baik dalam kesetaraan. Sangat fair, bukan? Jika sudah seperti itu pola pikir orangtua, maka kunjungan ke dokter tak lagi harus berakhir dengan peresepan obat. Anak pun bisa terhindar dari pengobatan yang tak rasional.

Tags: