Pasien Cerdas dan Dokter Rasional

sat-jakarta.com – Dokter mana pun pasti akan senang jika (orangtua) pasien memiliki bekal ilmu kesehatan yang cukup, sehingga ia bisa terhindar dari “tekanan“ meresepkan obat yang tak perlu. Apa yang Mama Papa lakukan ketika dokter menyerahkan kertas resep yang baru saja ditulisinya? Apakah Mama Papa langsung menerimanya dan kemudian segera menebusnya di apotek? Ataukah, Mama Papa merasa perlu untuk menanyakan terlebih dahulu kepada sang dokter, apa saja obat yang diresepkannya itu, apa manfaatnya, berapa dosisnya, dan adakah efek sampingnya?

Sejatinya, sikap cerdas ditunjukkan dengan sikap aktif saat berkonsultasi ke dokter. Aktif tentu tidak sama dengan sok tahu. Oleh karena itu, agar bisa berdiskusi enak dengan dokter, Mama Papa harus memiliki bekal ilmu kesehatan yang memadai. Lalu bersama-sama dokter mengaplikasikan penggunaan obat secara rasional berdasarkan kebutuhan klinis.

Istilahnya, Rational Use of Medicine (RUM) . Bukan tidak mungkin, atas permintaan orangtua pasien sendiri, dokter dituntut untuk memberikan obat yang pokoknya bisa cepat meredakan gejala dan menyembuhkan penyakit. Padahal, dengan RUM, obat bisa diberikan dalam dosis sesuai kebutuhan selama waktu tertentu.

Pasien pun harus memperoleh informasi yang akurat, serta dikenai biaya yang rasional. Apa manfaatnya? Tentu saja untuk menjaga keamanan pasien, menjamin efektivitas obat, menekan efek samping, dan menghemat uang (pasien, rumah sakit, negara). Intinya, RUM menjunjung etika dan persamaan hak. Jika tidak mengindahkan RUM, yang rugi ya kita semua.

Khususnya pasien yang sangat rentan terhadap efek samping obat, yaitu mereka yang sangat muda (bayi dan balita) dan mereka yang sudah lanjut usia. Celakanya, kedua kelompok inilah— khususnya bayi dan balita—yang sering terpapar pemberian banyak obat (polifarmasi) tanpa alasan kuat alias tidak rasional.

MELEK KESEHATAN

Supaya RUM bisa terwujud, tidak ada kata lain, semua konsumen kesehatan harus melek ilmu kesehatan. Minimal untuk masalah penyakit yang kadang atau secara menetap dideritanya. Jadi, apabila anak sakit, maka orangtua adalah pihak yang paling bertanggung jawab, bukan dokternya. Karena itu, orangtua harus melek ilmu kesehatan, tahu cara menangani gejala-gejala penyakit langganan anaknya seperti batuk, hidung tersumbat, diare, muntah, dan kegawatdaruratan.

Tags: